Gubuk tempat tinggal Firdaus bersama anak istrinya

Laporan : Shopie

Cianjur, metropuncaknews.com – Malang nian nasib Firdaus. Kini ia harus tinggal di gubuk berukuran 2,5 X 2,5 meter di tengah kebun milik orang di Kampung Cilandak RT 02/11 Desa Wangunjaya Kecamatan Naringgul Cianjur Selatan Jawa Barat. Di gubuk yang dihuni Firdaus ini, tak ada aliran listrik. Kalau malam, Firdaus harus hidup dalam kegelapan.

Keadaan tersebut dialami Firdaus sejak putri kesayangannya SA pada tahun 2016 dibawa lari seorang pria yang berinisial SF. Pencarian putri kesayangannya pun dilakukan Firdaus. Bahkan untuk biaya pencarian putrinya itu, Firdaus nekad menjual rumahnya  yang dibangun di Kampung Cikareo.

Setelah kehidupan dan kondisi ekonomi Firdaus morat-marit, anak kesayang Firdaus pada awal 2020, dikembalikan dalam keadaan hamil tua.  Mau tak mau, ditengah kehidupannya yang terbilang sangat-sangat sulit itu, Firdaus harus mengurus putrinya yang hamil tua. Firdaus harus menanggung beban biaya lelahiran cucunya.

Berdasarkan informasi yang himpun dari keterangan Unit Reskrim Polsek Naringgul, Kamis (23/01) kemarin. SF kini sudah diamankan di rumah tahanan Polsek Naringgul, guna mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Menurut keterangan, SF sudah empat tahun menghilang dan pernah menjadi buronan Kepolisian Sektor Naringgul. Namun pelariaannya terhenti pada Kamis (23/01), SF berhasil dibekuk Unit Reskrim Polsek Naringgul.

” Kronologis kejadian SA (korban) dibawa lari oleh SF, sejak tahun 2016 dan usianya kala itu masih berumur 11 tahun berstatus pelajar di salah satu Sekolah Dasar, dan pada saat itu pun pihak keluarga pun melapor pada pihak kepolisian pada tahun 2016 silam,” kata Unit Reskrim Polsek Naringgul, Senin (27/01).

Sementara Firdaus merasa kebingungan. Karena jangankan untuk mengurus biaya persalinan anaknya, untuk biaya hidup sehari-hari pun sudah susah.

” Meski SF pernah berjanji mau menikahi dan bertanggung jawab biaya kelahiran, karena SA dikembalikan dalam keadaan hamil sembilan bulan, bahkan sebentar lagi juga melahirkan,” ujarnya.

Saat dimintai keterangan Firdaus mengatakan, rumahnya miliknya sudah habis dijual, untuk biaya pencarian SA anaknya. Selain itu juga akibat terlilit hutang sama rentenir sebesar Rp. 1000.000,-. Uangnya saat itu dibawa SF, katanya untuk membeli sebidang tanah.

” Sebelum menempati rumah yang sekarang ini, dulu saya pernah tinggal di penggilingan padi milik orang lain, karena ngak punya tempat tinggal. Istri saya juga pernah mengalami sakit, gara-gara memikirkan SA. Tapi Alhamdullilah sekarang sudah kembali meskipun kondisinya sedang hamil,” kata Firdaus sembari mengusap air matanya.

Firdaus menambahkan, kalau bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah ia dapat. Namun untuk bantuan Rutilahu belum pernah.

” Terus terang saya kerja serabutan kuli di kebun milik orang lain, itupun kalau ada yang nyuruh tapi kalau gak ada diam saja dirumah, mau dagang juga gak punya modal. Saya berharap, semoga saja mendapatkan bantuan modal dan pembangunan rumah yang layak serta memiliki penerangan listrik,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dusun Cikareo Jajang Jafar membenarkan, Firdaus salah seorang warganya yang pernah tinggal dikedusunanya. Kini sudah pindah rumah. Rumah yang dulunya sudah dijual.

” Yang saya tahu, Firdaus menjual rumahnya untuk biaya pencarian anaknya, dan memang benar keadaan ekonominya sungguh sangat memprihatinkan, kasihan kini harus menanggung beban biaya anaknya yang lagi hamil karena ulah perbuatan pelaku. Mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah, baik daerah dan pusat untuk pembangunan rumahnya,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here