Laporan : Sandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Sebanyak 100 pasangan suami istri (Pasutri) yang belum memiliki surat nikah dari Kecamatan Ciranjang, Warungkondang dan Cipanas, kini bisa tersenyum manis. Pasalnya, mereka kini dapat Buku Nikah setelah mengikuti Isbat Nikah Massal yang prakasai Dandim o608/Cjr. Kegiatan tersebut digelar di Pengadilan Agama Cianjur, Jumat (12/6) kemarin.

Kepala Pengadilan Negeri Agama Cianjur Dr H Ajib Izudin, SH. MH mengatakan, Isbat Nikah Massal ini berbeda dengan acara nikah massal. Karena kalau isbat nikah mengesahkan pernikahan yang telah dilakukan pada masa lalu tanpa adanya bukti hukum atau nikah di bawah tangan.

” Isbat nikah berkaitan dengan hukum pernikahan dan menghasilkan buku nikah resmi, sedangkan nikah siri meski syarat dan rukunnya dilakukan tapi tak mempunyai kekuatan hukum,” katanya.

Ajib juga mengatakan, isbat nikah tersebut bisa membantu warga untuk mengurus administrasi kependudukan.

Dandim 0608 Cianjur Letkol Inf Rendra Dwi Ardhani mengatakan,  inisiatif untuk menyelenggarakan isbat nikah tersebut, karena melihat masih banyak warga Cianjur yang menikah belum secara hukum nasional. Maka bantuan berupa bansos dan lainnya pun sulit. Karena tak punya surat nikah dan kartu keluarga. Dari 371 ribu KK warga miskin di Cianjur, ada sedikitnya 21 ribu yang tak memiliki data kependudukan.

” Meski setelah Isbat nikah tak langsung mendapat bantuan sosial dan sejenisnya, tapi setelah ini warga bisa mengurus administrasi kependudukan dengan leluasa,” kata Rendra.

Lebih lanjut Rendra mengatakan, tujuan digelarnya Isbat nikah ini juga untuk membantu warga prasejahtera. Sehingga mereka nanti bisa mengurus administrasi kependudukannya.

” Ya kurang lebih ada 100 pasangan yang diisbatkan hari ini, paling tua umurnya 69 tahun paling muda 20 tahun,” ungkap Rendra.

Terpisah, salah seorang peserta Isbat Nikah, Abdurohman (52) mengatakan, ia sudah 21 tahun menikah dan mempunyai seorang anak. Namun selama ini ia belum sempat mengurus surat nikahnya.

” Sekarang kami bersyukur bisa memiliki Buku Nikah,” kata Abdurahman.

Menurutnya, saat menikah dulu ia terkendala ekonomi untuk menghadirkan penghulu di pernikahannya.

Hal yang sama juga disampaikan warga lainnya, Atep Rahmat (39). Dirinya juga terkendala ekonomi untuk menghadirkan penghulu saat menikahi istrinya lalu.

” Di kampung yang penting selamat dulu, hanya perwakilan keluarga dan beberapa tokoh yang hadir, kami belum mampu menghadirkan penghulu saat itu, saya berterima kasih kepada Dandim karena sudah menggelar acara ini,” kata Atep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here