Tim BPBN santuni jompo di wilayah Cianjur Selatan

Liputan : Shandi

Cianjur, metropuncaknews.com – Sabtu (29/12) Tim sosial BPBN, kembali memberikan bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat, kali ini yang menjadi targetnya berada di Kampung Cikawung Rt. 02/04 Desa. Cisujen, Kecamatan. Takokak.

Menurut keterangan warga Kampung Cikawung yang datang ke RSUD Sayang Cianjur untuk berobat, di Cikawung banyak terdapat jompo-jompo yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sehingga keadaannya pun sangat mengkhawatirkan.

Mendengar hal tersebut Ketua tim sosial BPBN, Cece Sutisna atau Dokprit (panggilan akrabnya/red), terenyuh hatinya untuk menuju dan melihat keadaan yang sebenarnya.

Maka jauh sebelum dilaksanakannya Bansos, tim sosial BPBN mensurvei lokasi, yang katanya banyak jompo-jompo yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Alhasil apa yang dikatakan salah seorang warga itu ternyata benar sesuai dengan kenyataannya. Maka tim sosial BPBN segera bergerak melakukan Bansos di lokasi tersebut, dengan pencapaian 100 jompo.

Saat ditemui Dokprit mengatakan, apa yang ia dan rekan-rekan lakukan ini bukan acara salah satu parpol. Tetapi hal ini memang sudah menjadi program pihaknya.

” Berhubung ini tahun politik dan saya tiba-tiba datang, ibu-ibu juga bapak-bapak jangan sampai salah paham. Kegiatan yang kami lakukan, ini bukan acara kampanye, melainkan memang sudah menjadi program kerja kami, untuk menyantuni anak yatim, jompo, dan orang-orang yang memang betul-betul layak kami bantu,” kata Dokprit sesaat sebelum membagikan santunan.

Beberapa titik wilayah di Kabupaten Cianjur pernah tim sosial BPBN sambangi. Ditemukan masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Apalagi untuk wilayah-wilayah yang terisolir seperti di Cianjur Selatan. Hidup dibawah garis kemiskinan seakan menjadi mayoritas.

Menyikapi kenyataan itu, Dokprit dan rekan-rekan mengharapkan adanya pemerataan hak-haknya masyarakat seperti yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2011 Tentang Penanganan Fakir Miskin atau mereka bermetamorfosis bisa menjadi gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, pungkas Dokprit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here