silaturahmi antara pemuka Adat Pasundan dan para ulama se-Kabupaten Cianjur

Laporan : Eka Rk/R. Dani

Laporan: Eka Rk/R Dani

Cianjur, metropuncaknews.com – Perkembangan dan kondisi Kabupaten Cianjur akhir-akhir ini telah mengundang kepedulian dari Majelis Adat Gagang Cikundul dan perkumpulan Srikandi Pasundan Ngahiji. Untuk itu mereka menyelenggarakan kegiatan silaturahmi antara pemuka Adat Pasundan dan para ulama se-Kabupaten Cianjur. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedong Asem Cianjur. Sabtu, (29/12) lalu.

Kegiatan tersebut merupakan satu bentuk tanggapan dan keprihatinan. Karena saat ini nampak semakin tercerai-berainya kelompok masyarakat Cianjur. Padahal seharusnya mereka bersatu padu untuk mengatasi berbagai tantangan di era milenial yang menggerus jati diri dan kepribadian warisan para leluhur.

Silaturahmi yang sekaligus upaya konsolidasi seluruh unsur masyarakat yang dibimbing para ulama dan tokoh adat itu, digelar untuk menyatukan pemikiran, tenaga dan daya, guna mengatasi persoalan-persoalan yang serius di bidang moralitas, intelektual dan budaya. 

Dalam kegiatan silaturahmi Masyarakat Adat dan Ulama Cianjur tersebut turut hadir Kapolres Cianjur AKBP Soliyah, SIK, MH, Dandim 0608 Cianjur, para tokoh ulama dan budayawan Cianjur.

Sementara itu, Ketua Srikandi Pasundan Ngahiji juga selaku Ketua Majelis Adat Gagang Cikundul Susane Febriyati, SH menjelaskan,  terbangunnya dialog antara tokoh adat dan ulama bisa membangun sebuah kepedulian dan sekaligus membangun pondasi untuk mengingatkan kembali sejarah asal usul Cianjur. Tujuannya agar bisa menjadi sebuah acuan untuk langkah Cianjur kedepan menjadi lebih baik.

” Kami juga akan menyampaikan, sebuah rekomendasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, karena apapun yang terjadi hari ini dengan sebuah situasi kritis Cianjur, memerlukan sebuah reaksi-reaksi positif tentunya yang bertujuan untuk kemaslahatan seluruh masyarakat Cianjur,” ujarnya.

Lanjut Susane, kegiatan ini merupakan bagian dari ‘Ngajaga, Ngaraksa dan Ngariksa’. Sebagai introspeksi terhadap sebuah implementasi nilai-nilai pilosopis Cianjur yang harus di implementasikan didalam kehidupan sehari-hari. Baik dari tatanan aktivitas sosial ataupun oleh pemerintah itu sendiri didalam kepemimpinan nya. Selain itu, yang menjadi keprihatinan Cianjur saat ini, tentunya menjadi sorotan untuk masyarakat Cianjur dalam memilih seorang pemimpin.

Susane juga mengatakan, ini menjadi sebuah introspeksi, untuk mengingatkan kembali serta menjalankan nilai-nilai Pilosopis Cianjur. Tidak hanya sebatas didalam bahasa saja, tetapi juga menjadi acuan dalam pola kepemimpinan. Perlu adanya pengembalian lagi sebuah kesejarahan Cianjur. Yakni Ngaos, Mamaos dan Maenpo serta Sugih Mukti’.

“ Itu merupakan bagian dari kesepakatan yang sudah disepakati, bahkan sudah ada didalam sebuah aturan Perda dan ini sudah sering kami ingatkan dari Majlis Adat Gagang Cikundul untuk mengembalikan tiga Pilar Budaya sebelumnya daripada tujuh pilar yang ada saat ini,” pungkasnya.  

Sementara itu Dedi Brata selaku Karamaan Majelis Adat Gagang Cikundul menerangkan, alasan dilaksanakan di Gedong Asem, karena memang sudah  bagiannya. Selain itu, supaya bisa mengingat kembali sejarah Gedong Asem.

Selain itu  adalah sebagai pioneer pesantren pada awal abad ke 19, yang mana santri-santrinya itu berkembang dengan dasar pendidikan Islam. Bahkan Ngaos, Mamaos dan Maenpo itu dilestarikan di Gedong Asem, tempat berkumpulnya para ulama, budayawan dan tempat berkumpulnya para paguron.

“ Jadi Gedong Asem ini merupakan tempat bersejarah untuk membangkitkan kembali semangat Ngaos Mamaos dan Maenpo,” terang Dedi Brata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here